Kamis, 10 November 2011

Sistem Produksi


Forecasting
LANDASAN TEORI


2.1              Peramalan Operasi Produksi
2.1.1    Peramalan (Forecasting)
Peramalan merupakan suatu dugaan terhadap permintaan yang akan datang berdasarkan pada beberapa variabel peramal, sering berdasarkan data deret waktu horizontal. Tujuan utama dari peramalan dalam menejemen permintaan adalah untuk meramalkan permintaan dari item-item independent demand di masa yang akan datang (Gaspers,1998, Hal 71-75).
Peramalan adalah seni dan ilmu untuk memperkirakan kejadian di masa yang akan datang. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan data masa lalu dan menempatkannya ke masa yang akan datang dengan suatu bentuk model matematis. Bisa juga merupakan prediksi intuisi yang bersifat subjektif (Heizer and Render, 2004, Hal 126).
Peramalan adalah proses untuk memperkirakan berapa kebutuhan di masa datang yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang ataupun jasa. Peramalan tidak perlu dibutuhkan dalam kondisi permintaan pasar yang stabil, karena perubahan permintaannya relatif kecil. Tetapi peramalan akan sangat dibutuhkan bila kondisi permintaan pasar bersifat kompleks dan dinamis.
Beberapa bagian organisasi di mana peramalan kini memainkan peranan yang sangat penting adalah :
1.       Penjadwalan sumber daya yang tersedia.
Pengunaan sumber daya yang efisien memerlukan penjadwalan produksi, transportasi, kas, personalia dan lain sebagainya. Input yang penting untuk penjadwalan ini adalah peramalan tingkat permintaan untuk produk, bahan, tenaga kerja, dan jasa pelayanan.
2.       Penyediaan sumber daya tambahan
Waktu tenggang untuk memperoleh bahan baku, menerima pekerja baru, atau membeli peralatan mesin antara beberapa hari sampai beberapa tahun. Peramalan diperlukan untuk menentukan sumber daya di masa datang.
3.       Penentuan sumber daya yang diinginkan
Setiap organisasi harus menentukan sumber daya yang ingin dimiliki dalam jangka waktu panjang. Keputusan semacam ini tergantung pada kesempatan pasar, faktor lingkungan dan pengembangan internal dari sumber daya financial, manusia, produk dan teknologi.
Klasifikasikan peramalan berdasarkan horizon diantaranya (Heizer and Render, 2004, Hal 137):
1.       Peramalan jangka pendek (Short-Range Forecast)
          Mencakup jangka waktu hingga 1 tahun tetapi umumnya kurang dari 3 bulan. Peramalan ini digunakan untuk merencanaakan pembelian, penjadwalan kerja, penugasan kerja dan tingkat produksi.
2.       Peramalan jangka menengah (Medium-Range Forecast)
          umumnya mencakup bulan hingga 3 tahunan. Peramalan ini berguna untuk merencanaakan penjualan, perencanaan dan anggaran produksi, anggaran kas, dan menganalisis bermacam-macam rencana operasi.
3.       Peramalan jangka panjang (Long-Range Forecast)
          Masa peramalan ini 3 tahun atau lebih. Peramalan ini digunakan untuk merencanakan produk baru, pembelanjaan modal, lokasi atau pengembangan fasilitas  serta penelitian dan pengembangan (litbang).

2.1.2    Karakteristik Peramalan yang Baik
Peramalan yang baik mempunyai beberapa kriteria yang penting antara lain (Aulia ishak, 2010, Hal 105-106):
1.              Akurasi (Accuracy)
Akurasi dari suatu hasil peramalan diukur dengan kebiasaan dan kekonsistensian peramalan tersebut. Hasil peramalan dikatakan bias apabila peramalan tersebut dikatakan terlalu tinggi atau terlalu rendah bila dibandingkan dengan kenyataan yang terjadi. Hasil peramalan dikatakan konsisten bila besarnya kesalahan peramalan relatif kecil.

2.              Biaya (Cost)
Biaya yang diperlukan dalam pembuatan suatu peramalan adalah tergantung dari jumlah item yang diramalkan, lamanya periode peramalan dan metode peramalan yang dipakai. Ketiga faktor pemicu biaya tersebut akan mempengaruhi berapa banyak data yang dibutuhkan, bagaimana pengolahan datanya (manual atau komputerisasi), bagaimana menyimpan datanya dan siapa ahli yang diperbantukan. Prinsip ini di adopsi dari hukum pareto (Analisa ABC)
3.              Kemudahan
Penggunaan metode peramalan yang sederhana, mudah dibuat dan mudah diaplikasikan akan memberikan keuntungan bagi perusahaan.

2.1.3    Beberapa Sifat Hasil Peramalan
Dalam pembuatan peramalan atau menerapkan hasil suatu peramalan, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu (Aulia ishak, 2010, Hal 107):
1.              Peramalan pasti mengandung kesalahan. Artinya peramalan hanya bisa mengurangi ketidakpastian yang akan terjadi, tetapi tidak dapat menghilangkan ketidakpastian tersebut.
2.              Peramalan seharusnya memberikan informasi tentang beberapa ukuran kesalahan, artinya peramalan pasti mengandung kesalahan, maka penting bagi peramal untuk menginformasikan seberapa besar kesalahan yang mungkin terjadi.
3.              Peramalan jangka pendek lebih akurat dibandingkan dengan jangka panjang. Hal ini disebabkan karena peramalan jangka pendek dipengaruhi permintaan relatif konstan. Sedangkan semakin panjang periode peramalan maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan.




2.1.4    Prosedur Peramalan
Dalam melakukan peramalan terdiri dari beberapa tahapan khususnya jika menggunakan metode kuantitatif. Tahapan tersebut adalah ((Aulia ishak, 2010, Hal 117):
1.            Definisikan Tujuan Peramalan
Misalnya peramalan dapat digunakan selama masa pra-produksi untuk mengukur tingkat dari suatu permintaan.
2.            Buatlah diagram pencar (Plot Data)
Misalnya memplot demand versus waktu, dimana demand sebagai ordinat (Y) dan waktu sebagai axis (X).
3.            Memilih model peramalan yang tepat
Melihat dari kecenderungan data pada diagram pencar, maka dapat dipilih beberapa model peramalan yang diperkirakan dapat mewakili pola tersebut.
4.            Lakukan Peramalan
5.            Hitung kesalahan ramalan (forecast error)
Keakuratan suatu model peramalan bergantung pada seberapa dekat nilai hasil peramalan terhadap nilai data yang sebenarnya. Perbedaan atau selisih antara nilai aktual dan nilai ramalan disebut sebagai “kesalahan ramalan (forecast error)” atau deviasi.
6.            Pilih Metode Peramalan dengan kesalahan yang terkecil.
7.            Lakukan Verifikasi
Untuk mengevaluasi apakah pola data menggunakan metode peramalan tersebut sesuai dengan pola data sebenarnya.

2.1.5    Ukuran Akurasi Hasil Peramalan
Ukuran akurasi yang merupakan ukuran kesalahan peramalan merupakan ukuran tingkat perbedaan antara hasil peramalan dengan permintaan yang sebenarnya terjadi. Ada 4 ukuran yang biasa digunakan yaitu :


1.            Rata-rata deviasi mutlak (Mean Absolute Deviation = MAD ).
         MAD merupakan rata-rata kesalahan mutlak selama periode tertentu tanpa memperhatikan apakah hasil peramalan lebih besar atau lebih kecil dibandingkan kenyataannya. Secara matematis MAD dirumuskan sebagai berikut :
                                         MAD =
Dimana:        At        = Permintaan aktual pada periode - t
                     Ft         = Peramalan permintaan pada periode -t
                     n          = Jumlah periode peramalan yang terlibat.

2.            Rata-rata kuadrat kesalahan (Mean Square Error = MSE).
         MSE dihitung dengan menjumlahkan kuadrat semua kesalahan peramalan pada setiap periode dan membaginya dengan jumlah periode peramalan.
                                 MSE =
3.            Standard Error (SE)
         SE merupakan perhitungan untuk menentukan tingkat kesalahan dari pengolahan data yang dilakukan, karena sangat penting untuk menentukan metode yang akan dipergunakan. Secara matematis SE dirumuskan sebagai berikut :
                                

Dimana:        At        = Permintaan aktual pada periode - t
Ft         = Peramalan permintaan pada periode -t
n          = Jumlah periode peramalan yang terlibat
f           = Jumlah periode peramalan yang tidak terlibat        



2.1.6    Pola-Pola Data Peramalan
Analisa deret waktu didasarkan pada asumsi bahwa deret waktu tersebut terdiri dari komponen-komponen Trend (T), siklus/Cycle (C), pola musiman (season) (S) dan variasi acak (Random/R) yang akan menunjukkan suatu pola tertentu. Analisa deret waktu ini sangat tepat dipakai untuk meramalkan permintaan yang pola permintaan dimasa lalunya cukup konsisten dalam periode waktu yang lama sehingga diharapkan pola tersebut masih berlanjut :
1.            Trend/Kecenderungan ( T )
Trend merupakan sifat dari permintaan dimasa lalu terhadap waktu terjadinya apakah permintaan tersebut cenderung naik, turun atau konstan.
2.            Silkus/Cycle ( C )
Permintaan suatu produk dapat memiliki siklus yang secara periodik, biasanya lebih dari satu tahun sehingga pola ini tidak perlu dimasukkan dalam peramalan jangka pendek. Pola ini amat berguna untuk peramalan jangka menengah dan jangka panjang.
3.            Pola Musiman/Season ( S )
Fluktuasi permintaan suatu produk dapat naik turun disekitar garis trend dan biasanya berulang setiap tahun. Pola ini biasanya disebakan oleh faktor cuaca, musim libur panjang, dan hari raya keagamaan yang akan berulang secara periodik setiap tahunnya.
4.      Variasi Horizontal ( H )
Terjadi bilamana nilai data berfluktuasi di sekitar nilai rata-rata yang konstan atau produk yang penjualannya tidak meningkat atau menurun selama waktu termasuk jenis ini.
Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

































Gambar 2.1 Pola Data Siklus

 

Gambar 2.2 Pola Data Trend
Siklus

 
















Gambar 2.3 Pola Data Musiman

 



















2.1.7    Metode-Metode Peramalan
Metode dalam peramalan terbagi tiga, yaitu (Modul Sistem Produksi, 2009):
A.      Metode Qualitative atau metode Judgumental.
Metode ini digunakan apabila kondisi sebagai berikut:
1.        Tidak ada data historis.
2.        Metode statistis tidak layak.
3.        Data terdahulu tidak mencerminkan kondisi yang akan datang.
Pertimbangan lain untuk metode ini adalah :
1.        Apa saja yang menjadi kebutuhan manusia.
2.        Bagaimana mereka bereaksi terhadap questioner atau uji pasar produk baru.
3.        Perilaku pelanggan.
4.        Memperhatikan pengalaman peramalan yang lalu.




Metode Qualitative terbagi atas :
1.        Metode Delphi
       Adalah metode peramlan kualitatif yang menggunakan panel yang terdiri dari para ahli, baik dari luar ataupun dari dalm organisasi.
2.        Metode Nominal Group
       Adalah metode peramalan kualitatif semacam dengan metode Delphi hanya berbeda para pakar diberikan kesempatan untuk berdiskusi.
3.        Market Survey
       Adalah metode peramalan kualitatif lainnya yang lebih baik hasilnya. Metode ini mempergunakan kuisioner atau pertanyaan-pertanyaan yang ditujuakan ke para pelanggan dan jawaban pelanggan ini merupakan peramalan permintaan pasar yang kemudian sebagai masukan untuk perencanaan produk.
4.        Analisis Historical Analogy and Life Cycle
       Merupakan metode kualitatif dimana penelitian pasar kadang-kadang dilengkapi degan data tentang kinerja produk sebelumnya, sehingga peramalan dapat dilakukan dengan cara membandingkan, mempelajari dan menganalisis kurva dari siklus kehidupan dari produk tersebut.

B.       Metode Quantitative Time Series atau metode Extrapolative.
Peramalan ini dilakukan dengan cara:
1.        Membuat analisis yang terperinci ada pola data waktu yang lalu.
2.        Data hasil analisis ini diproyeksikan menjadi ramalan permintaan (demand) untuk waktu yang akan datang.

Metode ini dapat dikelompokkan menjadi :
1.       Metode Simple Moving Average
a.               Metode Perataan (Average)
Data historis masa lalu dapat diratakan dalam berbagai cara, yaitu nilai tengah, rata-rata bergerak sederhana/tunggal (simple moving average), rata-rata bergerak ganda dan rata-rata bergerak dengan orde yang lebih tinggi.
1.      Nilai tengah
Metode rata-rata sederhana adalah mengambil rata-rata dari semua data dalam kelompok inisialisasi tersebut.
sebagai peramalan untuk periode (T + 1).
Dalam kelompok data historis masa lalu terdapat satu hat lagi titik sehingga, nilai rata-ratanya yang baru adalah
2.      Rata-rata bergerak sederhana/tunggal (simple moving average) Salah satu cara untuk mengubah pengaruh masa lalu terhadap nilai tengah sebagai peramalan adalah dengan menentukan sejak awal beberapa jumlah nilai pengamatan masa lalu yang akan dimasukan untuk menghitung nilai tengah.

Tabel 2.1 Moving Average
Waktu
Rata-rata Bergerak
Ramalan
T

T + 1

T + 2
3.      Rata-rata bergerak ganda
Untuk mengurangi galat sistematis yang terjadi bila rata-rata bergerak dipakai pada data berkerudung maka dikembangkan metode rata-rata bergerak linier. Dasar metode ini adalah menghitung rata-rata bergerak berganda, merupakan rata-rata bergerak dari rata-rata bergerak dan menurut simbol dituliskan sebagai MA (M x N) dimana MA adalah periode dari MA N­periode.
2.         Metode Wieghted Moving Average
  Model peramalan Time Series dalam bentuk lain dimana mendapatkan tanggapan yang lebih cepat, dilakukan dengan cara memberikan bobot lebih pada data-data periode yang terbaru dari pada periode yang terdahulu. Rumus Metode Peramalan wighted moving average adalah :
Dengan kondisi : 
Sebetulnya simple moving average adalah weighted moving average yang semua bobot periodenya sama yaitu Wi = 1/N. Kelemahan metode weighted moving average adalah tanggapannya tidak dapat dengan mudah berubah tanpa mengubah masing-masing bobot.

3.         Metode Exponential Smoothing
Pemulusan eksponensial, terdapat satu atau lebih parameter pemulusan yang ditentukan secara emplisit, dan hasil pemilihan ini menentukan bobot yang dikenakan pada nilai observasi.Pemulusan eksponensial tunggal (Modul Sistem Produksi, 2009).
Kasus yang paling sederhana dari pemulusan (smoothing) eksponensial tunggal (SES) (Modul Sistem Produksi, 2009), dengan persamaan sebagai berikut
Persamaan umum yang digunakan dalam menghitung peramalan metode pemulusan eksponensial adalah :
Ft+1      = aX1 + (1-a)F1
          = F1 + a (X1 –F1)
          = F1+ a ()
C.                Metode Quantitative Causal atau metode Explanatory.
Pada model peramalan Causal ada beberapa macam faktor ekonomi yang digunakan yaitu antara lain :
1.        Pendapatan (Disposable income)
2.        Rumah tangga baru (New married)
3.        Pembangunan perumahan (Housing start)
4.        Persediaan (Inventories)
5.        Biaya Hidup (cost of living)
Metode causal terbagi atas 3 jenis yaitu analisis regresi, metode peramalan econometric dan metode peramalan simulasi. Namun dalam penelitian ini metode yang akan digunakan hanya metode analisa regresi. Metode analisa regresi terbagi atas 2 jenis yaitu :
1.              Model Single Variable Regression
Regresi sederhana dikaitkan dengan setiap regresi dan setiap dari suatu ukuran Y tunggal (variabel tidak bebas) terhadap ukuran X tunggal (variabel bebas). Jika kita mengunakan Y sebagai variabel tidak bebas dan X = t sebagai variabel bebas, maka persamaannya adalah :
        = a + b(x)
b          = 
a          = y – bx
Keterangan
                    : Nilai dari variable yang akan diprediksi.
            a          : Persilangan sumbu y.
            b          : Kemiringan garis regresi.
            x          : Nilai variabel bebas ( dalam kasus ini adalah waktu).
            y          : Nilai variabel terkait.

2.              Metode Multiple Regresi
 
Single variable regression dapat dikembangkan menjadi multiple variable regressi dimana variable independent X lebih dari satu. Multiple regressi lebih bermanfaat dari pada simple regressi. Rumus standart error of estimate adalah  :

2.1.8    Pemilihan Metode Peramalan.
Dasar dari pertimbangan dalam pemilihan metode peramalan yang akan digunakan adalah :
1.              Pengguna atau pelaku dan kecanggihan metode.
2.              Waktu peramalan dan sumber data yang tersedia.
3.              Tergantung pada tujuan penggunaan dan karakteristik keputusan manajemen yang meliputi antara lain :
a.    Akurasi hasil peramalan.
b.    Jangka waktu penggunaan hasil peramalan.
c.    Jumlah item yang akan diramalkan.
4        Tersedianya data.
5        Pola data.
Metode peramalan yang terbaik adalah metode yang menggambarkan penekanan pada data waktu yang berurutan. Apabila pola data penuh dengan random noise dan nonlinear maka pilih pada metode peramalan kualitatif yang terbaik. Pemilihan metode peramalan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.2 Pemilihan Metode Peramalan
Tujuan
Peramalan
Jangka Waktu
Akurasi
Tingkat
Manajemen
Metode
Rencana proses
Jangka panjang
__
Sedang
Tinggi
Qualitative-Causal
Kapasitas/fasilitas
Jangka panjang
Sedang
Tinggi
Qualitative/Causal
Rencana aggregat
Jangka Sedang
Tinggi
Menengah
Causal/Time Series
Penjadwalan
Jangka Pendek
Tertinggi
Rendah
Time Series
Inventory
Jangka Pendek
Tertinggi
Rendah
Time Series


2.1.9    Verifikasi dan Pengendalian Peramalan
Hasil memilihan peramalan telah didapat maka perlu melakukan verifikasi peramalan sehingga hasil peramalan tersebut benar-benar mencerminkan data masa lalu dan sistem sebab akibat yang mendasari permintaan tersebut. Sepanjang aktualitas peramalan tersebut dapat dipercaya, hasil peramalan akan terus digunakan. Jika selama proses verifikasi tersebut ditemukan keraguan validitas metode peramalan yang digunakan, harus dicari metode lainnya yang lebih cocok. Validitas tersebut harus ditentukan dengan uji statistika yang sesuai.
Banyak alat yang dapat digunakan untuk verifikasi peramalan dan mendeteksi perubahan sistem sebab akibat yang melatarbelakangi perubahan pola permintaan. Proses verifikasi dilakukan dengan menggunakan Moving Range Chart (MRC) . Dari MRC dapat terlihat apakah sebaran data masih dalam kontrol atau sudah berada diluar kontrol. Proses Verifikasi dengan menggunakan Moving Range Chart (MRC) dapat dilihat pada gambar 2.5.

UCL = 2,66 MR
 
Y – Yt
 
                




































 











Gambar 2.5 Moving Range chart

MR                  =     
MRt                 = et – et-1

Kondisi out of control dapat doperiksa dengan menggunakan empat aturan berikut :
1.      Aturan Satu Titik
      Bila ada titik sebarab (Y-Yt) berada diluar UCL dan LCL. Walaupun jika semua titik sebaran berada dalam bartas kontrol, belum tentu fungsi/metode representatif. Untuk itu penganalisaan perlu dilanjutkan dengan membagi MRC dalam tiga daerah, yaitu A, B, dan C.
2.      Aturan Tiga Titik
Bila ada tiga buah titik secara berurutan berada pada salah satu titik sisi, yang mana dua diantaranya jatuh pada daerah A.
3.      Aturan Lima Titik
Bila ada lima buah titik secara berurutan berada pada salah satu titik sisi, yang mana empat diantaranya jatuh pada daerah B.
4.      Aturan Delapan Titik
Bila ada delapan buah titik secara berurutan berada pada salah satu titik sisi, pada daerah C.

2.2     Perencanaan Produksi
2.2.1  Pengertian Perencanaan Produksi
Perencanaan dapat di bedakan menjadi dua, yaitu:
1.            Perencanaan bersifat umum adalah perencanaan kegiatan yang dijalankan perusahaan untuk mencapai tujuan jangka panjang.
2.            Perencanaan produksi adalah perencanaan dan pengoganisasian mengenai pekerja, barang, mesin dan peralatan serta modal yang diperlukan untuk memproduksi barang pada suatu metode tertentu sesuai dengan yang diramalkan dan kemampuan perusahaan.
Perencanaan produksi adalah menyesuaikan permintaan  yang berasal dari permintaan  dengan seluruh kemampuan yang ada. Perencanaan produksi yang akan dibuat berdasarkan :
1.            Ketidakpastian dengan hasil peramalan itu sendiri
2.            Adanya ongkos yang timbul setiap kali mengubah level  produksi atau jiaka membuat persedian
3.            Tipe perusahaan manufaktur :
a.       Make to stock company
b.      Make to order company
c.       Make to order dan make to stock company
Barang yang akan direncanakan untuk masa depan harus memenuhi persyaratan :
1.            Barang tersebut harus di produksi dimasa itu sendiri
2.            Barang terseut harus dapat diproduksi oleh pabrik
3.            Barang tersebut harus dapat memenuhi keinginan pembeli sesuai dengan peramalan baik mengenai harga, kuantitas, kualitas dan waktu yang diperlukan

2.2.2  Tujuan Dari Perencanaan Produksi
Tujuan perencanaan produksi secara umum adalah untuk mengembangkan suatu rencana produksi menyeluruh yang feasibledan optimal. Feasible maksudnya adalah untuk memenuhi permintaan pasar dan sesuai dengan kapasitas yang ada, sedangkan optimal artinya menggunakan sumber daya  sebijaksana mungkin dengan mengeluarkan biaya sekecil mungkin.
Dari tujuan tadi dapat disimpulkan lagi menjadi beberapa tujuan  dari perencanaan produksi, yaitu :
1              Untuk mencapaitingkat keuntungan tertentu
2              Untuk menguasai pasar tertentu, sehingga hasil perusahaan tetap mempunyai bagian pasartertentu
3              Untuk mengusahakan agar perusahaan pabrik dapat bekerja  pada tingkat efisiensi tertentu
4              Untuk mngusahakan dan mempertahankan supaya pekerjaan dan kesempatan yang sudah atau tetap ditingkatkan
5              Untuk menggunakan sebaik-baiknya fasilitas yang sudah ada  pad perusahaan yang sudah ada.

2.2.3  Jenis-Jenis Perencanaan Produksi
Perencanaan produksi dilihat dari penggunaan tersebut, dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu:


1.            Perencanaan Produksi Jangka Pendek
yaitu berupa penenruan  kegiatan produksi yang dilakukan dlam jangka waktu satutahun yang akan datang berhubungan dengan proses operasi produksi.
2.            Perencanaan Produksi Jangka Panjang
yaitu penentuan kegiatan produksi yang dilakukan dalam jangka waktu satu tahun lebih dan berhubungan  dengan pengembangan produk.

2.2.4  Langkah-Langkah Perencanaan Produksi
Ada lima sumber yang harus diperhatikan dalam mempersiapkan perencanaan produksi bila ada permintaan yang ahrus di penuhi :
1.            Menetapkan unit pengukuran
2.            Menetapkan horison perencanaan
3.            Menentukan siklus pemeriksaan, pelaksanaan produksi planning
4.            Mendokumentasikan perencanaan sebagai prosedur normal
5.            Menetapkan petanggungjawaban yang jelas untuk setiap bagian.
Pada dasarnya proses perencanaan produksi dapat dikemukakan melalui empat langkah utama, sebagai berikut (Gaspers, 2001):
1              Langkah 1
Mengumpulkan data yang relevan dengan perencanaan produksi.
2              Langkah 2
Mengembangkan ddata yang relevan itu menjadi informasi yag teratur.
3       Langkah 3
Menetukan kapabilitas produksi,berkaitan dengan sumber-sumber daya yang ada.
4       Langkah 4
Menentukan partnership meeting yang dihadapi oleh manajer umum, manajer PPIC, manajer produksi, dll.
Rencana produksi harus mengarah pada permintaan total , sehingga formulasi umum untuk rencana produksi adalah (Gaspers, 2001):
Rencana Produksi = (Permintaan Total - Inventori Awal) + Inventori Akhir
Ada beberapa langkah dalam perencanaan produksi setelah diperoleh hasil peramalan adalah (Gaspers, 2001):
1                Input hasil peramalan
2                Ubah seluruh variabel menjadi satu ukuran
3                Tentukan kebijaksanaan perusahaan dan pilih satu atau beberapa model perencanaan
4                Tentukan model mana yng akan dipakai sesuai dengan kriteria

2.2.5  Sasaran Perencanaan Agregat
Ada beberapa sasaran perencanaan agregat (Sumayang, 2003) yaitu sebagai beriut:
1.            Perencanaan harus meliputi seluruh tigkat output dan persedian yang tersebut dalam rencana pokok perusahaan. Bila rencana pokok perusahaan mengutamakan peningkatan persedian maka perencanaan agregat harus menyediakan dukungan produksi yang memadai. Demikian juga bila perencanaan perusahaan mengutamakan peningkatan musiman maka perencanaan agregat harus juga menyediakan dukungan.
2.            Perencanaan agregat mengguakan kapasitas dari fasilitas sebagai strategi perusahaan. Apabila kapasitas kurang dimanfaatkan maka timbul pemborosan sumber daya. Oleh karena itu beberapa strtegi perusahaan beroperasi pada tingkatn hampir pada kapasitas penh sedangkan strategi perusahaan lain, membiarkan tingkat kapasitas berbeda dengan tingkat ramalan permintaan dan tanggap terhadap setiap perubahan kapasitas yang disesuaikan dengan gejolak permintaan. Terlihat disini bahwa tingkat kapasitas tergantung pada strategi perusahaan. Perencanaan total atau perencanaan agtregat harus sesuai dengan sasaranperusahaan dan kebijaksanaan yang menyutamakan kepentingan pekerja perusahaan megutamakan stabilitas angkatan kerja terutama pada kondisi kehlian yang langka sehingga sangat enggan untuk meyewa atau memberhentikan karyawan. Perusahaan lain megubah angkatan kerja dengan bebas  pada saat tingkatan output diubah sesuai dengan ruang lingkup perencanaan agregat tersebut.
Perencanaan agregat mempunyai hubungan yang sangat erat dengan keputusan bersama  (Sumayang, 2003) yaitu seperti
1.            Penyusunan anggaran yang didasarkan pada asumsi:
a.       Total Produksi
b.      Jumlah Personel
c.       Tingkat Persediaan
d.      Tingkat Penjualan
2.            Perencanaan personel meliputi keputusan tentang
a.       Penyewaan tenaga kerja
b.      Pemberhentian
c.       Lembur
3.            Pemasaran merupakan kebijaksanaan yang meliputi:
a.       Pelayanan kepada pelanggan
b.      Variabel penawaran perusahaan dan permintaan pelanggan digunakan untuk menetapkan suatu konsep pemasaran.

2.2.6  Kapasitas Produksi
Kapaitas adalah tingkat kemampuan produksi dari suatu dari suatu fasilitas. Kapasitas biasanya dinyatakan dalam jumlah volume output per periode waktu (Sumayang, 2003). Perencanaan kapasitas melalui tahapan berikut:
1              Memperkirakan kapasitas yang ada sekarang ini
2              Meramalkan kebutuhan akan kapasitas
3              Mencari alternatif lain untuk mengubah kapasitas
4              Evaluasi keuangan, ekonomi dan teknologi terhadap kapasitas alternatif
5              Memilih alternatif yang paling sesuai untuk mencapai strategi perusahaan
Ada beberapa kesulitan dalam mengukur yang disebabkan terjadinya perubahan adalah (Sumayang, 2003):
1              Pekerja datang terlambat atau tidak masuk bekerja
2              Peralatan dan perlengkapan rusak
3              Fasilitas berhenti bekerja karena keperluan keperawatan atau perbaikan
4              Perubahan jenis mesin karena ada perubahan produk.

2.2.7  Metode-Metode Perencanaan Produksi
Ada beberapa metode yang digunakan untuk menghitung besarnya biaya aggregat yang diperlukan. Seringkali suatu metode dibandingkan satu lama lain, untuk menetapkan alternatif pilihan yang tepat digunakan bagi industri tersebut. Dasar dari aggregate ini adalah meminimumkan cost dengan sumber-sumber yang ada untuk produksi dalam memenuhi permintaan terhadap produk (Modul Sistem Produksi, 2009) Metode-metode tersebut antara lain :
1.            Level Work Force
Pada metode ini kita harus menghitung besarnya biaya aggregat kerja yang dibutuhkan berdasarkan permintaan dan inventori yang ada. Sejak awal hingga akhir proses, inventorinya diasumsikan tetap. Tenaga kerja yang ada harus dapat memenuhi kebutuhan permintaan total selama satu tahun. Diasumsikan pula tidak ada overtime atau kelebihan waktu kerja.
2.            Level Work Force Plus Overtime
Strategi ini sedikit lebih komplek dibandingkan dengan strategi sebelumnya. Ini terjadi karma adanya overtime yang digunakan. Keseluruhan prosedur perhitungan yang dilakukan sama dengan metode level work force.
3.            Chase Strategy
Pada strategi ini terdapat kebutuhan tenaga kerja yang bervariasi setiap bulannya yang harus dipenuhi. Hal ini dilakukan dengan adanya penarikan dan pemberhentian tenaga kerja. Adanya perubahan ini perhitungan berdasarkan kebutuhan tenaga kerja yang diperlukan berdasarkan permintaan yang harus dipenuhi. Berkaitan dengan adanya biaya-biaya yang selalu bervariasi disetiap bulannya.
4.            Linear Programing
Strategi ini digunakan untuk prosedur perhitungan dimana produksi yang berjalan terdiri dari dua macam produk atau lebih, karena tidak mungkin diselesaikan dengan tiga metode sebelumnya, maka metode ini merupakan salah satu metode perhitungan yang dapat digunakan. Prosedur perhitungan yang dilakukan melalui metode simplek yang biasanya terdapat dalam perhitungan mengenai penelitian operasional.
5.            level method
Didefinisikan sebagai metode perencanaan produksi yang memppunyai distribusi merata dalam produksi. Dalam perncanaan produksi , level method akan mempertahankan tingkat kestabilan produksi yang sementara menggunakan  inventori yang bervariasi untuk mengakumulasikan output apabila terjadi kelebihan  permintaan total.
6.            Compromise
          Merupakan komromi antara kedua metode yaitu level method dan Chase Strategy dari perencanaan produksi.

2.2.8        Metode Perencanaan Produksi Dengan Linear Programming
Satu dari berbagai cara kuantitatif yang dapat digunakan dalam perencanaan produksi semesta adalah Linear Programing, yaitu model pengangkutan atau penyebaran (transportation or distribution model) yang diperkenalkan oleh E.F BOWMAN. Di dalam pennggunaan cara ini, perusahaan akan berusahan untuk memenuhi permintaan akan barang dan jasa dengan melaksanaan pengolahan melalui kerja biasa (reguler production). Apabila barang dan jasa yang dibuat dengan kerja biasa belum cukup untuk memenuhi kebutuhan, perusahaan dapat mengadakan kerja lembur (overtime). Apabila dengan kerja lembur penuh, yaitu dengan menggunakan seluruh jam kerja lembur yang dapat dimanfaatkan, jumlah barang yang dibuat masih tetap belum dapat memenuhi kebutuhan, perusahaan dapat meminta perusahaan lain untuk membuatnya (subcontract). Urutan penggunaan sarana operasi dan produksi ini, yaitu biasa – lembur – subcontract, adalah urutan yang paling lazim dan pada umumnya paling hemat.
Gambar 2.6 menunjukkan bentuk umum suatu matriks pengangkutan atau penyebaran, atau yang yang sering juga disebut matriks permintaan produksi (Demanf Production Matriks). Lajur yang biasanya digunakan sebagai tujuan pada gambar 2.6 digunakan sebagai permintaan, dan lajur sumber digunakan sebagai lajur sumber barang. Lajur biaya pengangkutan digunakan sebagai lajur biaya pengolahan ditambah biaya persediaan.
Gambar 2.6 matriks pengangkutan (Transportation)

2.2.9  Ongkos Total Produksi (OTP)
          Ongkos total produksi (OTP) adalah memperhitungkan semua ongkos-ongkos yang yang terkait dengan ongkos-ongkos produksi dalam memproduksi suatu produk. Rumus untuk mencari ongkos total produksi (OTP) adalah
Ongkos Total Produksi = Biaya Produksi + Biaya Kapasitas Yang Tak Terpakai.
          Semua perencanaan agregat menetapkan sebuah rencana dengan tujuan menurunkan biaya. Bila asumsi demand adalah tetap, maka strategi untuk mengubah demand tidak diperlukan. Jiak demand ditentukan dan tetap, maka dalam penyusunan perencanaan agregat, jenis biaya berikut ini harus  dipertimbangkan (Sumayang, 2003).
1              Ongkos penambahan tenaga kerja (hiring cost)
Penambahan tenaga kerja menimbulkan ongkos-ongkos untuk iklan, proses seleksi dan training. Ongkos training merupakan ongkos yang besar apabila tenaga kerja yang direkrut adalah tenaga kerja yang belum berpengalaman.


2              Ongkos pemberhentian tenaga kerja (firing cost)
Pemberhentian tenaga kerja biasanya terjadi karena semakin rendahnya permintaan akan produk yang dihasilkan, sehingga tingkat produksi menurun dengan drastis. Pemberhentian ini mengakibatkan perusahaan mengeluarkan pesangon bagi karyawan yang di PHK, menurunnya moral kerja dan produktivitas karyawan yang masih bekerja, dan tekanan yang bersifat sosial. Akibat dari semua ini dianggap sebagai ongkos pemberhentian tenaga kerja yang akan di tanggung oleh perusahaan.
3              Ongkos lembur dan ongkos menganggur (overtime & undertime cost)
Penggunaan waktu lembur bertujuan untuk meningkatkan output produksi, tetapi konsekuensinya perusahaan harus mengeluarkan ongkos tambahan lembur yang biasanya 150% dari ongkos kerja yang reguler. Disamping ongkos tersebut, adanya lembur akan memperbesar tingkat absen karena capek.
4.            Ongkos persediaan & ongkos kehabisan persediaan (inventory & backorder cost)
Persediaan mempunyai fungsi mengantisipasi timbulnya kenaikan permintaan pada saat-saat tertentu. Konsekuensi dari kebijakan bagi perusahaan adalah timbulnya ongkos penyimpanan (inventory cost atau holding cost) yang berupa yaitu :
1.                Ongkos tertahannya modal
2.                Pajak asuransi
Kebalikan dari kondisi di atas, kebijakan tidak mengadakan persediaan seolah-olah menguntungkan, tetapi sebenarnya dapat menimbulkan kerugian dalam bentuk ongkos kehabisan persediaan.
5.            Ongkos subkontrak (subcontract cost)
Pada saat permintaan melebihi kemampuan kapasitas reguler, biasanya perusahaan mensubkontrakkan kelebihan permintaan yang tidak bisa ditanganinya sendiri kepada perusahaan lain. Konsekuensi dari kebijaksanaan ini adalah timbulnya ongkos subkontrak, biasanya ongkos mensubkontrakkan ini lebih mahal dibandingkan memproduksi sendiri dan adanya resiko terjadinya kelambatan penyerahan dari kontraktor.